MENCARI PETILASAN MAKAM YOHANES EMDE DI PENELEH

Perjalanan siang ini sebenarnya sangat melelahkan, namun saya bisa menetralisir suasana yang melelahkan ini bisa menjadi ceria dan lebih santai, karena ada sesuatu yang membuatku kagum dan tertarik.

Juga terlebih saya ingin tahu dimana letak petilasan makan Yohanes Emde seorang awam yang menyebarkan Injil di Jawa Timur, yang dulu katanya pernah dimakamkan di tempat ini.

Menurut cerita benar atau tidak, Yohanes Emde pernah dimakamkan di tempat ini, namun sudah dibongkar dan dipindah ke pemakaman Sukun Malang.

Makam Peneleh sebuah makam peninggalan kolonial Belanda menjadi saksi bisu dan sebait  sejarah yang sebentar lagi akan musnah jika kita-kita ini kurang mempunyai kepedulian tinggi.

Makam Peneleh berada di tengah perkotaan kota Surabaya, ini yang saya kunjungi, dan yang membuat saya kagum, sebuah makam yang mempunyai nilai-nilai artistik dan unik.

Makam yang memiliki luas 4,5 hektare ini berada di Jalan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya. Namun sayang
makam ini nampak sepi pengunjung selama pandemi COVID-19 ini, walau sudah ada kelonggaran PPKM dari pemerintah.

Dengan mata takjub dan sedikit berdecak lidah ini lantaran kagum. Membuatku penasaran ingin mengetahui apa yang ada dibalik semuanya ini. Menurut cerita bapak penjaga juga pembersih makam, ceritanya sebelum pandemi COVID-19, pengunjung banyak yang berdatangan entah wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama wisatawan asal Belanda  hampir setiap tahun mereka datang.

Kedatangan para wisatawan selain berziarah juga sekedar untuk mengenang sejarah. Dan juga disamping itu tempat ini  sebagai spot bagi para pencinta fotografi dan juga prawedding.

Memang selama pandemi Covid-19 ini pagar Makam Peneleh selalu tergembok rapat. Tidak semua orang bisa asal masuk, pengunjung harus izin terlebih dahulu.
Juga diharuskan wajib prokes. Itupun jumlah pengunjung dibatasi.

Makam ini dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.

Sebagai pegiat sejarah Kuncarsono Prasetyo mengatakan, ada 3.500 lebih jasad yang dikuburkan di komplek makam yang dibangun pada 1814 itu.

Beberapa di antaranya Residen Surabaya Daniel Francois Willem Pietermaat (1790–1848), Gubernur Jenderal Hindia Belanda Pieter Merkus (1787–1844), Wakil Direktur Mahkamah Agung Hindia Belanda Pierre Jean Baptiste de Perez, hingga seorang penerjemah dan ahli bahasa terkemuka saat itu Van Der Tuuk.

Tulisan di beberapa makam dengan bahasa Belanda masih jelas menyebut informasi siapa yang dimakamkan dan kapan jenazah lahir dan dimakamkan.

Menurut Kuncar, Makam Peneleh tidak hanya untuk petinggi Hindia Belanda. Beberapa juga ada jasad warga Jerman, Inggris, Jepang, Asia dan lainnya.

Juga menurutnya satu makam rata-rata dipakai untuk lebih dari dua jasad, tidak seperti sekarang yang ditutup permanen setelah dipakai menguburkan satu orang.

Makam Peneleh merupakan pemakaman modern di eranya dengan konsep klaster yang dibagi menurut pangkat, jabatan dan keluarga.
Ini menandakan tingkat diskriminasi sosial yang tinggi pada zaman kolonial.

Jenazah yang memiliki jabatan dan tingkat sosial yang tinggi menempati makam yang lebih megah dengan ornamen yang lebih mewah.
Berdasarkan literasi yang ada, kata Kuncar, Makam Peneleh ditutup pada 1924 karena sudah penuh.

Pemerintah Hindia Belanda saat itu terpaksa memindahkan makam ke komplek makam Kembang Kuning di Kelurahan Pakis Kecamatan Sawahan.

Makam Peneleh adalah laboratorium sejarah desain dan arsitektur.
Bukan hanya model bangunan makamnya yang berbeda tiap zaman, namun juga  material pembuatannya, bentuk fontnya, simbol simbolnya, hingga ornamen ragam hiasnya.

Ada perkawinan desain Belanda-Jawa dari bentuk makam. Ada konstruksi atap seng plus ornamen lisplang berukir tembaga.

Nah karena tidak terawat, banyak bagian-bagian makam yang hilang begitu saja, karena itu dia mendesak Pemkot Surabaya segera menetapkan kompleks Makam Peneleh sebagai cagar budaya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya Antiek Sugiharti membenarkan ada usulan untuk menjadikan Makam Peneleh sebagai bangunan cagar budaya di Surabaya.

Dan menurutnya masih dalam proses analisis dan kajian tim Disbudpar Kota Surabaya. Jika analisis dan kajian sudah memenuhi syarat, maka penetapan sebagai cagar budaya akan dilalukan oleh wali kota melalui surat keputusan.

Ya begitulah cerita dan catatan-catatan yang saya dapat dari Makam Peneleh peninggalan kolonial Belanda. Dan sudah tidak kutemukan lagi petilasan makam seorang pendiri GKJW, (dwi.BI)